Irma Suryati Seorang Difabel Sukses Merintis Mutiara Handicraft Keset Kain Perca yang Mendunia

Irma Suryati Seorang Difabel Sukses Merintis Mutiara Handicraft Keset Kain Perca yang Mendunia – Terlahir sebagai seorang difabel bukan merupakan kendala untuk meraih sukses, karena kesuksesan adalah milik siapa saja sebagai makhluk Tuhan asalkan ia berusaha maka sukses adalah miliknya. Begitu halnya dengan seorang wanita kelahiran Semarang pada tanggal 1 Januari 1975 yang bernama Irma Suryati.

Sejak usianya menginjak 4 tahun, Irma Suryati menderita kelumpuhan akibat polio. Namun, kelumpuhan yang dideritanya tidak menyurutkan tekadnya untuk sukses. Seperti halnya, manusia normal lainnya Irma juga memiliki mimpi. Ejekan yang ia dapat ia patahkan dengan semangat yang membara untuk sukses.

Berita dari https://www.bandungadvertiser.com/ Kelumpuhan yang diderita Irma Suryati menyebabkan ia berjalan menggunakan tongkat. Dengan keterbatasan tersebut tidak menyurutkan tekadnya untuk tetap bersekolah hingga SMA. Setelah ia lulus SMA, ia mencoba melamar bekerja ke beberapa perusahaan, namun berbagai penolakan ia terima. Penolakan tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berusaha.

Berbagai usaha dilakukan Irma Suryati untuk mendapatkan pengakuan bahwa ia mampu bekerja dan sukses seperti orang lain. Irma Suryati terus membulatkan tekadnya untuk terus berusaha dan sukses seperti orang lain.

Perjuangan Panjang penuh Duka

Penolakan demi penolakan diterima oleh Irma Suryati karena keterbatasan fisik yang dialaminya. Namun, ia tidak pantang menyerah untuk mencari mata pencaharian dalam usaha mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Hingga pada akhirnya, ia hampir putus asa tetapi ia tidak membiarkan dirinya larut dalam keputusasaan. Ia pun berjuang dan memutar otak, apa yang harus dikerjakan untuk masa depannya.

Pada akhirnya, Irma Suryati seperti dikuti dari https://undercover.co.id/ memutuskan untuk berwirausaha mengolah kain perca. Ide ini terinspirasi dari ibunya yang sering membuat taplak dan keset dari kain perca. Kemudahan pun diperoleh Irma, ia mendapat kain perca dari sisa industri garmen dekat rumahnya di Semarang. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh Irma.

Irma mulai menekuni usahanya dengan membuat aneka bentuk keset dari kain perca. Sebagai langkah awal, keset kain perca yang ia buat, ia pakai sendiri. Lama-kelamaan, keset kain perca buatannya diminati oleh tetangga di sekitar rumahnya. Keset kain perca buatan irma pun terkenal dari mulut ke mulut hingga terbentuk pasar keset kecil di sekitar rumahnya.

Perjuangan usaha keset Irma tidak terhenti di situ. Pada tahun 1994, Irma pindah ke Solo untuk mengikuti program Rehabilitasions Centrum (RC). Program tersebut ia jalani selama setahun hingga akhirnya ia lulus dan menikah dengan Agus Priyanto yang juga difabel seniornya di RC.

Jatuh Bangun Usaha Keset Perca Irma

Bak gayung bersambut, ide kreatif Irma Suryati disambut oleh suaminya yang jago melukis. Pada tahun 1999, Irma mengembangkan usaha keset percanya secara unik, yaitu membuat keset dari kain perca dan melukis karakter kartun animasi di atasnya. Ide kreatif tersebut, membuat keset perca Irma semakin diminati.

Pada tahun 2000, keset kain perca Irma semakin dikenal, banyak orderan pun datang tiada henti. Irma pun senang karena perjuangannya membuahkan hasil hingga meraih omzet Rp850juta. Irma pun bahagia dengan pencapaian tersebut.

Kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama karena mengalami musibah kebakaran hingga tidak ada uang sepeser pun yang tersisa. Namun bukan Irma namanya jika harus menyerah dengan keadaan. Dengan tekad dan semangat penuh pada tahun 2002, Irma dan suaminya hijrah ke kampung halaman suaminya di Kebumen, Jawa Tengah.

Di kampung halaman suaminya, Irma memulai usahanya dari nol. Irma juga mengajak teman-teman yang difabel untuk membuat kerajinan perca dengan cara memberikan pelatihan. Namun, Irma masih belum memiliki pasar di Kebumen, ia pun menitipkan keset percanya di beberapa pedagang dengan harga murah antara Rp3.000,00 – Rp5.000,00.